Think More and Work Harder

Selasa, 20 Mei 2014

Berbagi Cinta



“Aku nggak mau jadi guru!”
Itulah kalimat yang keluar dari mulut saya sekitar 2,5 tahun lalu saat saya kelas 3 SMA. Dulu saya sangat tidak tertarik untuk menjadi guru. Bagi saya menjadi guru itu susah, ribet, dan membosankan. Saat SMA saya ingin sekali kuliah di ITB dan mengambil fakultas STEI (Sekolah Teknik Elekto dan Informatika). ITB berbeda dengan perguruan tinggi lain, jika di perguruan tinggi lain kita akan ditempatkan langsung di jurusan yang kita pilih mulai dari semester 1, namun di ITB pembagian jurusan diadakan saat semester 3. Saya ingin sekali memilih jurusan teknik informatika.
Saya berjuang keras untuk bisa keterima di ITB, mulai dari belajar kelompok dengan teman-teman hingga ikut belajar tambahan di luar jam les di bimbel. Kebetulan di bembel tempat saya belajar diadakan jam tambahan bagi siswa yang ingin belajar lebih. Namun, usaha itu awalnya bisa dikatakan sia-sia karena orang tua tidak mengizinkan saya kuliah di ITB. Orang tua meminta saya kuliah di Bengkulu dan mengambil fakultas keguruan. Awalnya saya sangat menentang keras. Betapa tidak? Sejak awal saya sangat tidak ingin menjadi guru, sedangkan orang tua meminta saya mengambil fakultas keguruan.
Ibu saya bilang..
“Dengan menjadi guru kamu bisa berbagi cinta.
Saya tidak sependapat dengan ibu, karena bagi saya untuk berbagi cinta tidak hanya dengan menjadi guru. Mungkin bisa dibilang jika saat itu adalah pilihan tersulit pertama yang pernah saya alami selama saya hidup. Mengapa? Karena kuliah adalah penentu kita mau jadi apa kedepannya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Di satu sisi saya ingin kuliah di jurusan yang saya minati, tapi di sisi lain saya ingin menuruti apa yang disarankan oleh orang tua. Namun, jurusan yang disarankan orang tua saya adalah jurusan yang selama ini saya hindari. Dengan keadaan bingung yang teramat sangat, akhirnya saya curhat dengan sahabat saya.
Setelah saya curhat, dia hanya mengatakan..
“Restu Allah adalah restu orang tua, kalo kamu mau direstui Allah ya kamu harus dapat restu dari orang tua agar apa yang kamu kerjakan membawa berkah dan bernilai pahala”.
          Kalimat sederhana yang memiliki arti sangat dalam itulah yang akhirnya mengubah pikiran saya. Saya menuruti keinginan orang tua yang ingin saya menjadi guru. Saya memilih fakultas keguruan dengan jurusan pendidikan Bahasa Inggris. Mengapa Bahasa Inggris? Karena saya cinta dengan Bahasa Inggris (bukan berarti saya benci Bahasa Indonesia) dan saya bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri dengan bermodalkan Bahasa Inggris.

          Meskipun pada akhirnya saya harus menuruti orang tua saya, namun saya sama sekali tidak merasa keberatan menjalani perkuliahan karena saya mencintai dan menjalaninya dengan ikhlas. Bahkan semakin dijalani saya semakin bersyukur. Hal tersebut karena…

1.  Saya sudah bisa mengajar les private sejak semester satu.
Sumber: http://tips-indonesia.com/page/26
1   Selain mengasah kemampuan saya untuk menjadi guru, kegiatan ini juga bisa mengasah kemampuan Bahasa Inggris saya, dan yang tidak kalah pentingnya adalah saya sudah mendapatkan penghasilan sendiri sejak awal kuliah. Meskipun penghasilannya belum seberapa, tapi setidaknya saya sudah merasakan bagaimana mencari uang dan bagaimana menggunakan uang dari hasil keringat sendiri. Mungkin jika saya tidak menuruti saran orang tua untuk kuliah di fakultas pendidikan, hingga detik ini saya belum memiliki penghasilan sendiri.



2.Saya bisa menjadi asdos.

 
Sumber: http://ticaatica.blogspot.com/2012_08_01_archive.html
Saat semester 3 saya sudah menjadi asdos mata kuliah aplikasi komputer (aplikom). Aplikom ini merupakan mata kuliah wajib universitas, jadi siapapun yang mampu dan lolos saat seleksi penerimaan asdos tentu bisa menjadi asdos, tidak harus mahasiswa dari teknik informatika. Banyak sekali pengalaman baru yang saya dapatkan di sini. Mulai dari bertemu mahasiswa dari semua fakultas, belajar sabar dalam menghadapi tingkah laku mahasiswa yang berbeda bahkan terkadang membuat kesal, serta belajar bagaimana mengajari dan membuat mahasiswa paham akan apa yang kita jelaskan. Tanpa harus kuliah di jurusan teknik informatika saya tetap bisa berkecimpung di dunia teknik informatika. Saya juga mendapatkan tambahan ilmu diluar jurusan yang saya ambil.


3. Saya bisa ikut organisasi
Sumber:
http://m.inilahkoran.com/read/detail/2079644/musrenbang-rkpd-2015-cianjur-mulai-dibahas
Saya memiliki waktu luang untuk bergabung dalam organisasi. Banyak teman saya di jurusan teknik informatika tidak memiliki waktu untuk ikut organisasi karena sibuk dengan tugas yang menggunung. Saya juga memiliki banyak tugas kuliah, tapi tidak seberat teman saya di teknik informatika. Dengan bergabung di organisasi saya diajarkan untuk membagi waktu antara kuliah dan organisasi, bekerjasama dengan tim, melatih kepemimpinan, dan masih banyak lagi hal bermanfaat lainnya yang tidak saya dapatkan di bangku kuliah.

Sekarang saya paham apa yang dimaksud ibu saya dengan berbagi cinta. Mengajar harus dengan cinta, karena dengan cinta kita akan mengajar dengan ikhlas dan mengajar dari hati. Semua yang dilakukan dengan cinta akan mendapatkan hasil yang menuaskan. :)

*note: 732 kata

 http://cintamonumental.blogspot.com

9 komentar:

  1. cinta memang kunci segalanyaaaa....dan Ibu benar yaaa...berbagi cinta itu tiada dua rasanyaa..makasih sudah ikutan yaa..semoga sukseees :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, semoga mbak juga sukses :) iya mbak, untung aja aku waktu itu nurut sama ibu. Ibu emang tau banget yang terbaik untuk anaknya :)

      Hapus
  2. Terima kasih sdh berpartisipasi di GA kami yaa... Salam Cimoners :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama" mbak. Wish me luck *pengen banget dapet smartphone nya :)

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. terimakasih Puspita untuk pasrtisipasinya

    BalasHapus